
Dalam upaya memperkuat pembinaan spiritual bagi narapidana, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Riau melakukan kunjungan ke Lapas Narkotika Kelas IIA Tanjungpinang pada hari Rabu, 29 April 2026. Kunjungan ini tidak hanya sebagai bentuk silaturahmi, tetapi juga untuk membahas rencana strategis yang berkaitan dengan pembentukan pesantren bagi warga binaan pemasyarakatan. Inisiatif ini bertujuan untuk membantu transisi mental dan spiritual mereka selama menjalani masa hukuman.
Kunjungan MUI Kepri dan Pesantren Warga Binaan
Kegiatan ini dipimpin oleh Ketua Umum MUI Kepri, Dr. K.H. Bambang Maryono, bersama sejumlah pengurus lainnya. Di antara yang hadir adalah Sekretaris Umum Drs. Edi Syafrani, Bendahara Umum Dr. Edi Akhyari, Wakil Sekretaris Abbas M. Zein, serta staf sekretariat Machmud. Selain itu, Komisioner Baznas Kepri, Dr. Pauzi, juga turut serta dalam pertemuan ini, menunjukkan dukungan lintas lembaga terhadap rencana pembentukan pesantren.
Dari pihak pemerintah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Riau, Aris Munandar, hadir didampingi oleh Kabag Tata Usaha Achmad Sihabudin dan Kabid Pelayanan dan Pembinaan Encup Supriadi. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendukung program pembinaan keagamaan bagi narapidana.
Dukungan Penuh dari Pihak Lapas
Dalam sambutannya, Aris Munandar menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada MUI Kepri atas kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan dukungan penuh terhadap rencana pembentukan pesantren di Lapas Narkotika Tanjungpinang. “Kanwil siap memfasilitasi koordinasi guna mewujudkan sarana pendidikan agama sebagai bagian dari pembinaan warga binaan,” ujarnya dengan tegas.
Ketua MUI Kepri, Dr. K.H. Bambang Maryono, juga mengapresiasi langkah tersebut. Ia menekankan bahwa keberadaan pesantren di dalam penjara akan menjadi sarana yang sangat penting dalam proses transformasi mental dan spiritual warga binaan. “Kami mendukung penuh pembentukan pesantren sebagai wadah pembinaan kepribadian dan penguatan nilai-nilai keagamaan bagi warga binaan,” tambahnya.
Tausiyah untuk Warga Binaan
Selama kunjungan, Dr. Bambang Maryono juga menyempatkan diri untuk memberikan tausiyah kepada para warga binaan. Ia mengingatkan mereka akan pentingnya sikap sabar dan rasa syukur dalam menjalani masa pembinaan. “Bersyukurlah atas nikmat kesehatan dan bersabarlah menghadapi ujian. Jadikan masa ini sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke masyarakat,” pesannya dengan penuh harapan.
Doa Bersama Sebagai Penutup Kegiatan
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Sekretaris Umum MUI Kepri, Drs. Edi Syafrani. Doa ini menjadi simbol harapan dan sinergi untuk masa depan yang lebih baik bagi warga binaan, di mana mereka dapat memanfaatkan waktu mereka di dalam penjara untuk memperdalam keimanan dan pengetahuan agama.
Sinergi Antara MUI Kepri dan Lapas
Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Tanjungpinang, Fauzi Harahap, juga memberikan tanggapan positif tentang kunjungan ini. Ia mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sinergi yang strategis antara pihak lapas, MUI Kepri, dan Baznas Kepri. Sinergi ini diharapkan dapat memperkuat pembinaan kepribadian berbasis keagamaan bagi para narapidana.
Lebih lanjut, Fauzi menegaskan pentingnya komitmen bersama untuk segera menindaklanjuti rencana pembentukan pesantren sebagai program unggulan dalam pembinaan warga binaan. “Diharapkan, langkah ini dapat meningkatkan motivasi spiritual warga binaan sehingga mereka siap kembali ke masyarakat dengan lebih baik,” tutupnya dengan optimis.
Manfaat Pesantren Bagi Warga Binaan
Pembentukan pesantren di dalam lembaga pemasyarakatan memiliki banyak manfaat. Di antaranya:
- Pendidikan Agama: Memberikan akses pendidikan agama yang komprehensif kepada warga binaan.
- Pembinaan Karakter: Mendorong pengembangan karakter yang lebih baik melalui ajaran agama.
- Rehabilitasi Spiritual: Membantu proses rehabilitasi spiritual yang sangat penting bagi mereka yang sedang menjalani hukuman.
- Persiapan Kembali ke Masyarakat: Membekali warga binaan dengan nilai-nilai positif agar siap reintegrasi ke masyarakat.
- Komunitas Positif: Menciptakan lingkungan yang mendukung bagi warga binaan untuk saling mendukung dalam proses perubahan diri.
Uji Coba dan Implementasi Program
Program pembentukan pesantren ini diharapkan dapat segera direalisasikan dengan melakukan uji coba di beberapa lapas sebelum diterapkan secara luas. Hal ini akan memungkinkan pihak terkait untuk mengevaluasi efektivitas program dan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Uji coba ini juga bertujuan untuk mengumpulkan masukan dari warga binaan dan pihak-pihak terkait untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pembinaan yang diberikan.
Keterlibatan Masyarakat dalam Pembinaan
Partisipasi masyarakat juga sangat penting dalam keberhasilan program pesantren bagi warga binaan ini. Melalui keterlibatan masyarakat, diharapkan dapat tercipta jalinan kerjasama yang baik antara lembaga pemasyarakatan dan masyarakat. Beberapa bentuk keterlibatan masyarakat bisa meliputi:
- Sukarelawan Pengajar: Masyarakat bisa berperan sebagai pengajar sukarela di pesantren.
- Dukungan Materi: Menyediakan buku, alat tulis, dan materi pendidikan lainnya.
- Program Pendampingan: Mengadakan program pendampingan bagi warga binaan setelah mereka bebas.
- Penyaluran Beasiswa: Memberikan beasiswa bagi warga binaan yang berprestasi dalam pendidikan agama.
- Kegiatan Sosial: Mengadakan kegiatan sosial untuk mempererat hubungan antara warga binaan dan masyarakat.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan adanya program pesantren ini, diharapkan dapat tercipta generasi baru yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki karakter yang baik. Proses pembinaan yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan ini akan membawa dampak positif tidak hanya bagi warga binaan, tetapi juga bagi masyarakat luas. Dengan dukungan semua pihak, langkah ini menjadi harapan untuk mengurangi angka kriminalitas dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.






